Rabu, 20 Maret 2013

 ''Jatuh''
cerpen remaja jatuh

Dengan santai Revan terus menuju sekolahnya sambil mendengarkan lagu dari earpotnya. Keasikanya terusik ketika tubuhnya dengan sempurna mendarat ditanah akibat ditabrak... cewek..???
"Eh.. sory...sory.. gue nggak sengaja" Kata cewek tersebut, sambil menunduk meminta maaf, eh salah ternyata dia menunduk untuk mengambil bukunya yang jatuh (-,-)
"Loe nggak papa kan...?" Katanya bisa bangun sendiri, sory ya, gue telat, da" sambungnya sambil berlalu pergi meninggalkan Revan yang masih terdampar dengan tampang cengo. Dengan mayun dia berdiri sambil menepuk debu-debu yang menempel dibajunya. Umpatnya lirih terlontar dari mulutnya, namun begitu berbalik tayang ulang terjadi karena lagi-lagi pantatnya harus kembali mencium aspal.
"Waduh nabrak lagi, sory beneran, beneran gue tadi terlambat soalnya ini hari pertama gue masuk sekolah, gue lari nggak liat elo, nabrak deh. Kalo yang barusan ada batu ditengah jalan berhubung mata dikepala nyandung deh, makanya bisa nabrak elo, lagian gue emang punya ma..."
"Diam loe..!" Bentak Revan yang membuat cewek itu, mangap tampa suara kayak di Puaus gitu. Setelah mampu berdiri ia segera berlalu pergi, rencananya sih emang mau marah tapi tadi matanya nggak sengaja melirik jam ditangannya, sepuluh menit lagi masuk kelas, sia-sia marah cuma lima menit mubazir waktu namanya.
Namun baru sepuluh langkah sebuah teriakan menghentikannya yang membuat punggungnya kembali tertabrak , syukurlah paling tidak kali ini ia tidak sampai terjatuh.
"Loe mau apa sih sebenarnya..?" Geram Revan sambil berbalik.
"Eh.. gue." cewek itu tertunduk sambil mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, "Mau nanya kalau SMA 1 jalanya kemana ya...? belok kiri apa kanan...? soalnya gue baru disini jadi gue nggak tau..?" Sambungnya polos.
Kali ini Revan bener-bener kesel sudah menabrak nggak jelas, sekarang sok nanya alamat segala. Tapi, he..he... sepertinya otak evilnya sedang berfungsi waktu melihat penampilan cewek itu.
"Belok kiri jalan terus sampai lingkungan belok kanan jalan aja terus ." Sahun Revan sambil tersenyum.
"Jalan aja terus sampai loe ketemu pasar, rasain loe emang enak dibikin nyasar" Guman Revan lirih begitu cewek itu hilang ditikungan. Dengan perasaan puas ia melangkah kearah kiri. Dalam hati ia tertawa akan kebodohan cewek itu yang tidak melihat kesamaan seragam mereka yang memang sedikit tersamarkan karena jaket yang dikenakannya.
"Bruk..."
"Astaga.." keluh Revan sambil mengusap-usap ujung bagunya yang sedikit basah akibat kuah baksonya yang tumpah karena tubrukan dipunggungnya.
"eh maaf, tali sepatu gue lepas, terus terinjak makanya bisa hampir nubruk.."
"elo....!!!!"
Jerit keduanya serentak yang mengagetkan seluruh pengunjung kantin yang memang sedang rame-ramenya.
"Ya ampun Tifani kenapa harus teriak segala. Dan elo Van kenapa shcok gitu" Putus salsa.
"elo kan cowok kurang ajar yang bikin gue tadi pagi nyasar" geram Tifani dengan menunjuk kearah tepat kewajah Revan.
"Dan elo cewek yang akan jatuh saat berjalan diatas permukaan datar" ledek Revan sinis.
"itukan bukan kemauan gue, kalau harus bermasalah sama keseimbangan tubuh, lagian tadikan gue udah minta maaf saat tabrakannya, kok elo malah bikin nyasar, sekarang cepet minta maaf."
"MInta maaf...? jangan mimpi" balas Revan sebelum akhirnya berlalu pergi.

Sejak insiden tersebut hubungan mereka jadi tidak pernah akur, yang sedikit banyak menarik perhatian seisi sekolah.

"kenapa sih elo nggak pernah akur sama Revan ..?" tanya Aulia pada Tifani sambil duduk-duduk dibangaun depan lapangan bola basket depan sekolah.
"yah itukan bukan kemauan gue, padahal tadinya gue pikir Revan itu keren lho, apa lagi waktu melihat senyumnya pertama kali, cute banget"
Langkah kaki Revan langsung terhenti. kepalanya menoleh, sebuah senyum kembali terukir dibibirnya mendengar kata-kata yang baru saja tertangkap indra pendengarannya.
"ketauan, loe naksir sama Revan ya..?" Tebak Dini kuat.
"Eh enggak kok cuma....?!?!"
"Cuma apa....? hayo" ledek teman-temannya yang lain, tampa menunggu bantahan yang keluar dari mulut TIfani, Revan lebih memilih berlalu.
"What...? taruhan..? elo pengen kita taruhan kalau elo bisa bikin Tifani jatuh cinta sama elo. dan bakalan elo putusin tepat dihari ulang tahun loe yang cuman tinggal dua minggu lagi...?" jerit Doni setengah berteriak, tidak percaya akan ide gila sahabatnya.
"ia gue bakalan bikin Tifani jatuh cinta sama gue, dan gue putusin didepan kalian semua, gimana...? berani nggak...?
"elo beneran udah gila" kata Alan menimpali, sementara Revan hanya angkat bahu.
"kalian takut..?" tantangnya lagi.
"oke 5 juta deal..?" balan Doni mengulurkan tangan
"Deal" sambung Revan mantab dan tersenyum puas tampa menyadari Benda persegi hitam sedari tadi tetap vokus padanya.
"Kanapa sih setiap gue ketemu elo selalu tertabrak...?" gerutu Revan sambil menyentuh kepalanya yang diperban.
"sory, tapi paling enggak kali ini kan bukan karena gue". sahun Tifani merunduk, walau rasa bersalah sedikit menyentuhnya.
"nggak kok elo emang nggak harus meminta maaf, justru harusnya gue yang bilang makasih secara elo udah menyelamatkan gue, kalau nggak pasti udah ketabrak mobil, lebih parah lagi, untung aja ada loe cepet menabrak gue jadi sehingga kepala gue cuma sedikit kebentur batu, bukan tubuh gue yang kelindas mobil.
"Tapikan gue emang niat nabrak elo, bukan nggak sengaja babarak, secara elo jalannya melamun padahal udah jelas jelas ada mobil yang melaju.
"Watever deh, yang jelas makasih."
Tifani mengangguk mendengarnya.
Sejak saat itu hubungan mereka sedikitnya membaik jika tidak mau dibilang akrab. Ditambah kenyataan kalau mereka ternyata bertetangga kerena keluarga Tifani ternyata pindah tepat didepan rumahnya Revan sementara Tifani bersahabat karib dengan Lara adik kandungnya Revan.
Tak terasa dua minggu telah berlalu Revan benar-benar galau terbesit rasa ragu dihatinya akan taruhannya. Apa lagi ia harus dihadapkan pada kenyataan kalau ia sudah terbiasa akan kehadiran Tifani atau lebih tepatnya ia merasa Tifani itu menarik.
Istirahat siang nanti adalah deadline taruhanya. Doni juga sudah juga sudah mengingatkan. setelah memikirkan untung dan rugi Revan sudah memutuskan dan memantapkan hatinya. Sampai berita dimading menghebohkan seluruh penjuru sekolahnya.
Dengan langkah tergesa diterobosnya gerombolan anak-anak shock saat mendapati berita yang tertera disana.
"ini mustahil..!"
saat berbalik shock untuk kedua kalinya begitu mendapati tatapan datar Tifani yang terjajar lurus padanya.
"Fan, ini tidak seperti yang elo bayangkan
"Memang apa yang elo pikirkan Takun shplis.
"elo pasti mikir kalau berita dimading soal gue taruhan gue sama temen-temen guekan...? gue nggak tau dari mana kata-kata itu berasal, tapi gue akui kalau awalnya itu semua emang benar, gue emang niat jadiin loe taruhan sampai akhirnya ...?"
"akhirnya..?" tanya Tifani, karena Revan masih terdiam.
"Akhirnya gue sadar kalau gue beneran suka sama loe, dan gue beneran pengen jadiin loe pacar gue"
"O...?!"
"O...????!!!" Revan bingung akan reaksi Tifani. Dengan cepat ditahannya tangan Tifani sebelum dia berlalu.
"Terus...?"
"Elo belum jawab pertanyaan gue"
"Oke gue mau jadi pacar loe"
"Elo nggak marah...?" tanya Revan heran
"Enggak tapi gue mau kasi sarat sebelum gue jadikan pacar Kamu?
"syarat...? apa...?" tanya Revan harap-harap cemas, yang lain juga merasa penasaran
"syarat kalau loe nggak boleh marah"
"Gue..? marah...? untuk...?"
"ini" balas Tifani sambil menengadah tangan dan memberi isyarat kepada Doni untuk mendekat.
"Dasar payah loe Van," ledek Doni sambil menyerahkan amplop ketangan Tifani.
"Sepuluh jutakan..?" tanya Tifani
"Iya pas nggak kurang" balas Doni terdengar nggak rela sementara TIfani tertawa.
"Tunggu dulu ini sebenarnya apa..? Terheran-heran" itu uang apa..?"
"O... ini uang taruhan, jadi waktu elo bikin taruhan ama temen-temen loe, gue juga ada disana. Foto dan biodata yang ada dimading juga hasil jepretan gue, tapi waktu itu gue tanggung datangin temen-temen loe lepas loe pergi, kita buat taruhan juga, kalo loe manyatakan cinta maka mereka bayar sepuluh juta"
"Ha...?!?!"Revan schok
"Jadi loe jadiin gue taruhan..?" geram Revan
"Kan sama kek loe" balas Tifani santai
"Jadi loe terima gue karena taruhan...?" tanya Revan sedikit kecewa.
"O.. tentu saja bukan karena itu"
"karna apa...?" tanya Revan tidak sabar.
"Karena gue juga suka sama loe"
Mau tidak mau Revan juga tersenyum simpul.
"Cuma..."
"Cuma apa...?"
"Cuma keknya tambah seru juga secara sekali merayu dua tiga pulau terlewati" kata Tifani sambil mengipas-ngipaskan uang diwajahnya.
"Tifani....!" nada suara Revan benar-benar terdengar menyeramkan apa lagi senyumnya sudah menghilang diwajahnya dan siap memangsa.
"O...O..." Tivani segera berbalik pergi, Revan yang berlari mengejarnya segera menghentikan niatnya begitu memandang lurus kedepan kekaki Tifani yang aneh. Sekali senyum kembali terlihat dibibirnya.
"Tiga"
"Dua"
"Satu"
"Deal"
Tifani sukses jatuh dilantai akibat menginjak tali sepatunya sendiri saat simpulnya terlepas, hening sejenak sebelum tawa meledak mengisi seluruh penjuru sekolah.
"Ah ternyata elo tetap aja cewek yang bakalan jatuh walaupun berjalan dipermukaan datar" Ledek Revan tampa mampu menahan tawa.
"ha...ha....ha....."

Rabu, 13 Maret 2013


Cinta sejati yang berujung maut




 






Kisah ini aq alami sekitar th 2004 lalu, saat aq berkenalan dg seorang gadis bernama Vina, dan inilah kisah cintaku yang paling tragis yang tidak bisa kulupakan seumur hidup.

Aq melirik jam tanganku, ternyata sudah jam 7 pagi saat aq mulai memasuki gerbang sekolahku. Dengan tergesa-gesa aq pun berjalan menuju kelasku karna bel sekolah sudah berbunyi. Saat aq berjalan, secara tidak sengaja aq menabrak seorang gadis yg kebetulan jg datang terlambat..

"Maaf-maaf, aq gk sengaja.." kataku sambil membantu memunguti bukunya yg jatuh karna aq tabrak.

"Oh, tidak apa2 kok. Lain kali hati2 ya.." kata gadis itu dg ramah.

"Iya maaf.. Km anak kelas mana?? Kok bisa terlambat??" tanyaku padanya.

"Aq anak kelas 3 Jurusan Informatika.. Iya nih, aq terlambat gara td angkotnya mogok. Km sndiri nak kelas mana?? Kok terlambat juga??" tanya gadis itu padaku.

"Aq nak kelas 3 Jurusan Konstruksi Bangunan.. Hehe, biasa lah yg namanya cowo'.." kataku padanya.

"Oh, kalo gt kita sebelahan donk kelasnya.." kata gadis itu.

"Iya, mending kita bareng aja yuk jalannya.." kataku padanya.

"Ok deh.." kata gadis itu sambil tersenyum.

Kemudian kami pun berjalan bersama menuju kelas kami masing-masing.

Jam 9, bel istirahat berbunyi. Aq pun langsung menuju kantin, dan aq pun kembali bertemu dg gadis itu yg kebetulan akan ke kantin jg..

"Eh, kita ketemu lagi.. Mau kemana nie??" tanyaku pada gadis itu.

"Iya nih, aq mau ke kantin jg.." jawab gadis itu.

"Oh, sama donk ma aq.. Eh ya, kita lum kenalan, nama kamu siapa??" tanyaku padanya.

"Namaku Vina, nama km??" tanya gadis itu padaku.

"Namaku Ardin.." jawabku.

"Trus alamat rumah km dimana??" tanyaku padanya.

"Rumahku di Jl. Gajah Mada 47.." jawabnya.

"Oh, kalo gt kita sama donk alamatnya, aq di Jl. Gajah Mada no 76.." kataku padanya.

Dan itulah awal perkenalanku dg gadis yg bernama Vina. Kami pun akhirnya berteman dan juga saling bertukar no hp. Tiap hari kami selalu berangkat ke sekolah bersama-sama, sampai2 teman2 sekolah kami mengira kami pacaran karna kami slalu terlihat berjalan bersama..

Tak terasa 5 bulan sudah aq berteman dg Vina, dan karna seringnya aq dan vina berjalan bersama dan salin sms, akhirnya aq pun mulai jatuh cinta padanya tapi aq masih takut untuk mengutarakan perasaan cintaku padanya. Dan pada suatu hari, aq pun berusaha untuk memberanikan diriku untuk menyatakan cinta pada dia. Aq pun berniat untuk menyatakannya saat istirahat sekolah..

"Vina, istirahat nanti aq tunggu km di taman sekolah ya.." kataku padanya.

"Ada apa, kok tiba2 ngajak ke taman sekolah??" tanya vina padaku.

"Ada deh, pokoknya km datang aja kesana.." kataku padaya.

Tepat bel istirahat, aq pun langsung menuju ke taman sekolah dan duduk di kursi taman. 5 menit kemudian, vina datang menemuiku di taman..

"Ada apa sih ardin, kok ngajak kesini??" tanya vina sambil duduk disampingku.

"Ada suatu hal yg pengen aq omongin padamu.." jawabku.

"Apa itu ardin??" tanya vina.

"Tapi km jangan marah ya kalo aq omongin hal itu.." kataku padanya.

"Iya, aq gk akan marah kok.." jawabnya.

"Aku...." kataku sambil malu2.

"Aku apa???" tanya vina.

"Aku...jatuh cinta padamu...mau gk km jd pacarku??" jawabku.

Sejenak vina terdiam setelah mendengar kata-kata dariku..

"Kenapa vina, kok diam?? Km marah ya padaku?? Maaf ya.." tanyaku padanya.

"Enggak, aq gk marah kok.. Cm aq bingung aja mau jawab kata-kata km td.." kata vina.

"Mangnya km mau jawab apa??" tanyaku padanya.

"Emmmm, aq malu untuk jawab ardin.." jawab vina.

"Jawab aja vina, gpp kok.." kataku padanya.

"Sebenarnya aq jg jatuh cinta padamu sejak 1 bulan lalu, pi aq takut km marah bila aq bilang padamu.." jawab vina.

"Owh... Trus gimana, km mau gk jd pacarku??" tanyaku padanya.

"Aku mau jd pacar km ardin.." jawab vina sambil tersenyum.

"Alhamdulillah.. Makasi ya vina.." jawabku sambil senang bgt.

Akhirnya kami pun resmi berpacaran sejak saat itu. Kebersamaan kami jadi semakin dekat dan hari demi hari kami lalui dg bahagia. Bahkan saat menjalani UAN, aq jadi mempunyai semangat karena telah memiliki seorang kekasih, dan vina juga merasakan sama seperti yg aq rasakan. Dan akhirnya kami pun dapat lulus bersama dg hasil yang baik.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan kami jalani dg bahagia dan selalu bersabar jika kami menghadapi suatu masalah pada hubungan kami..

Tak terasa sudah hampir 1 tahun aq berpacaran dg vina. Dan pada suatu hari, vina kuajak jalan2 pagi ke taman kota untuk dan setelah itu kami duduk di kursi taman..

"Beibz, aq boleh nanya gk??" tanya vina padaku.

"Boleh donk, mang km mau nanya apa??" jawabku padanya.

"Selama kita pacaran kamu merasa ada yg aneh gk pada diriku??" tanya vina padaku.

"Hmmm, gk ada yang aneh kok, cm aq merasa kalo akhir2 ini kamu sering sekali sakit dan wajah km pucat.." jawabku pada vina.

"Oh, itu mungkin karena aq terlalu kecapean aja.. Ya syukurlah kalo memang km gk merasa ada yang aneh pada diriku.." jawab vina padaku.

"Eh, dah jam 8 nie.. Kita pulang yuk.." ajak vina padaku.

"Iya nih, ayo dah.." jawabku.

Kemudian aq dan vina pun pulang, setelah mengantarkan vina kerumahnya, aq pun langsung berpamitan kepada ortu vina. Di perjalanan pulang kerumah, aq terus memikirkan tentang kata-kata vina di taman tadi, tidak mungkin dia tiba2 nanya seperti itu kalo alasannya cm kecapean aja.

2 hari kemudian, aq mendapat telepon dari ayah vina..

"Halo, ini nak ardin ya??" tanya ayah vina.

"Iya, saya ardin.. Ada apa pak??" jawabku.

"Nak ardin, cepat kesini sekarang ya nak, vina sakit nak.. Dia muntah darah dan mimisan.." kata ayah vina.

"Ha?? Kok bisa gt pak?? Mangnya vina habis ngapain??" tanyaku.

"Bapak gk tau nak, mending km kesini sekarang nak.." jawab ayah vina.

"Iya pak, sekarang saya akan kesana.." jawabku.

Kemudian aq pun langsung pergi kerumah vina, disana aq pun langsung menuju ke kamar vina, terlihat dia pucat sekali..

"Kenapa km beibz?? Kok bisa kyk gini??" tanyaku pada vina.

"Gk tau nie, pagi td kepalaku terasa pusing bgt trus aq muntah darah dan mimisan.." jawab vina.

Kemudian aq pun bertanya pada ayah vina..

"Mangnya dia udah dibawa ke dokter pak??" tanyaku pada ayah vina.

"Sudah nak, tapi kata dokter dia tidak apa2, tidak ada penyakit serius di tubuhnya.." jawab ayah vina.

"Wah, kayaknya nie bukan penyakit biasa pak.. Mending kita bawa aja ke kyai, kebetulan saudaraku punya kenalan seorang kyai.." jawabku pada ayah vina.

"Iya nak, ayo kita bawa vina sekarang.." jawab ayah vina.

Kemudian kami pun lantas membawa vina menuju rumah kyai kenalan saudaraku. Setelah itu vina pun langsung dirukyah, dan saat dirukyah vina langsung berteriak-teriak seperti org kesakitan. Melihat itu aq dan ayah vina hanya bisa bersedih sambil memegangi kaki dan tangan vina agar tidak berontak.

1 jam kemudian, vina pun selesai dirukyah dan ayah vina bertanya pada kyai itu..

"Pak kyai, apa yg terjadi pada anak saya? Kok dia bisa seperti itu td?" tanya ayah vina.

"Begini pak, sepertinya ada orang yang telah mengirim santet kpd anak bapak.." kata kyai itu.

"Trus sekarang gimana pak kyai, apakah anak saya bisa dibawa pulang?" tanya ayah vina.

"Bisa pak, tapi anak bapak harus rajin dibawa kesini untuk terapi rukyah selanjutnya.." jawab kyai itu.

"Iya kyai, kami akan rajin membawa dia kesini.. Terima kasih kyai.." kata ayah vina.

Kemudian kami pun membawa vina pulang kerumahnya.

Setiap seminggu skali vina dibawa kerumah kyai untuk terapi rukyah, tapi masih belum ada sedikitpun, dia masih sering mimisan dan muntah darah terus. Aq dan ortu vina sangat sedih sekali melihat keadaan vina yg seperti itu.

1 bulan sudah vina menjalani terapi rukyah, tapi hasilnya sama saja dan malah semakin parah. Dan tepat pada hari senin malam sekitar jam 10, vina tiba2 kejang2 dan dia kesulitan untuk bernafas. Kemudian kami pun lantas memanggil kyai yg mengobati vina unt datang kerumah vina malam itu juga. 10 menit kemudian kyai itu datang dan langsung berusaha mengobati vina.. 15 menit kemudian kyai itu pun menyuruh aq, ayah vina, ibu, serta keluarga vina lainnya untuk berkumpul di kamar vina..

"Sepertinya nak vina sudah tidak dapat tertolong lagi, dia skarang mengalami sakaratul maut.. Lebih baik kita sekarang bersikap ikhlas dan membantu dia untuk mengucapkan syahadat agar sakaratul mautnya bisa lancar" kata kyai itu.

Seketika itu pun aq, ayah vina, ibu vina dan keluarga yg lain langsung menangis. Dan kemudian ayah vina menuntun vina untuk mengucapkan syahadat, sedangkan aq, kyai, ibu vina, dan keluarga lainnya membaca yasin..

Akhirnya, tepat pukul 1 malam, vina mengembuskan nafas terakhirnya.. Innalillahiwainnalillahirojiun.. Kami pun langsung menangis, terlebih aq yg paling bersedih karna harus merelakan cinta sejati q pergi untuk selamanya.. Hikz..

Keesokan harinya, jenazah vina pun lantas dimandikan, dikafani, dan disholatkan.. Setelah itu jenazah vina pun dimakamkan di pemakaman umum dg diiringi isak tangis dariku, ayah dan ibu vina, teman2nya, dan saudara2nya..

7 hari sudah vina meninggalkanku dan keluarganya untuk selamanya. Dan aq masih tidak bisa percaya cinta sejatiku itu pergi begitu cepat..

Dan tepat pada malam ke 8 sekitar jam 12.00 saat aq sedang mengaji yasin untuk vina, tiba2 aq dikejutkan oleh kedatangan arwah vina yg muncul didepanku..

"Vvvvinnnaaa, kkkammuu kok datang kesini??" tanyaku sambil terbata-bata.

"Beibz, kamu jangan takut ya.. Aq datang bukan untuk mengganggumu, aq cm ingin memberitaumu tentang orang yg telah menyantetku sampai aq meninggal.." kata arwah vina padaku.

"Sssilahkan dah.." kataku pada arwah vina.

"Aku seperti ini karena ulah seorang cowo' yang bernama Hary.. Dia pernah menyatakan cinta padaku tapi aq tolak karna aq tau dia tu anak berandalan dan suka pakai ilmu hitam.. Dan dia sakit hati karna cintanya aq tolak, kemudian dia mengirim santet padaku beibz.. Maafkan aq, karna aq terlambat untuk memberitau km beibz" kata arwah vina.

"Oh, tidak apa2 kok.. Trus apa yang bisa aq lakukan agar km bisa tenang di alam km??" tanyaku padanya.

"Aq ingin km membantu ayahku untuk menangkap dia beibz, agar dia bisa mendapatkan hukuman yg setimpal.." kata arwah vina padaku.

"Iya vina, aq akan melaksanakan amanatmu itu.." kataku padanya.

"Terima kasih sayang, jangan terus2an bersedih ya, aq yakin km akan mendapatkan cinta sejati yang lebih dariku. Jangan khawatir, aq akan selalu hidup didalam hati km beibz.. Sekarang aq akan pergi ke alam q, doain aq ya agar q bisa tenang.. Selamat tinggal cinta sejatiku.." kata arwah vina.

"Iya.. Aq akan selalu berdoa untukmu sayang.. Selamat tinggal.." jawabku sambil bersedih.

Setelah itu, arwah vina pun lenyap di kegelapan malam.. Arwah cinta sejatiku..

Esok paginya, aq pun langsung kerumah vina untuk memberitaukan amanat alm. vina pada ayah dan ibu vina. Setelah itu, aq dan ayah vina pun pergi kerumah kyai yg mengobati alm. vina dg maksud untuk minta bantuan menangkap si Hary..

Sesampai dirumah Hary, aq dibantu ayah vina dan kyai langsung menangkap Hary, dan dia pun tak bisa berkutik karena ilmu hitamnya sudah dimusnahkan oleh kyai atas ijin Allah SWT.. Setelah itu Hary pun langsung diserahkan kpd polisi untuk kemudian mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya..

Alhamdulillah, akhirnya aq pun bisa melaksanakan amanat alm. vina, amanat cinta sejatiku yang akan tetap hidup dihatiku untuk selamanya..


Kisah ini di ambil dari kisah seorang laki-laki bernama Dhani 

Kawan saya punya sedikit tips nieh buat kalian agar pacarnya jadi semakin sayang , boleh di coba kawan.............


1. Perhatian.
Sekecil apapun itu, jangan pernah menganggap hal tersebut adalah sepele. Sekedar untuk diketahui, 
 sikap perhatian adalah salah satu faktor utama yang bikin dia sayang sama kamu lho.

2. Pengertian.
 Mencoba untuk menjadi orang lain memang terasa tidak nyaman, namun mencoba untuk (minimal sedikit) pengertian justru akan membuat kamu merasa menjadi diri sendiri. Ya, memberikan waktu luang, kesempatan, atau hal yang menurut kamu nggak banget, biasanya itu akan membuat dia salut ke kamu. Mmm contohnya, waktu lagi jalan-jalan, kamu yang pegangin payung. Meskipun rasanya kamu risih pegangin payung, but it’s ok lah. Atau sodorkan sebuah bangku untuknya ketika kamu sedang mencari tempat duduk di cafe, atau dimanapun. Atau bagi si cewek, sesekali buatkan makanan/minuman kesukaan si doi ketika kamu mengetahui bahwa dia memang lagi menginginkannya. Bla..bla..bla…

3. Jadikan dia menjadi yang terpenting!
Bingung juga sih jelasinnya, tapi saya yakin kamu ngerti dari maksud kata di atas. Tetapi cobalah untuk berkaca pada diri kamu sendiri, kamu juga pengen untuk diprioritaskan sama si doi kan? So, do it!

4. Berusaha untuk menjadi seperti keinginannya.
Ketika kamu menjalin sebuah hubungan, sebenarnya kamu harus menerima dia apa adanya. Tetapi yang namanya manusia nggak ada yang sempurna. Nah maka dari itu, setiap hal yang menurut dia nggak suka, cobalah untuk tidak melakukannya. Jika itu terasa sulit, coba untuk merubahnya pelan-pelan. Kalo rasanya juga nggak bisa, jangan lakukan di depannya. dengan begitu, si doi akan merasa bangga karena dia merasa telah memberikan perubahan terhadap diri kamu ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Tapi perlu di ingat, ini bukan berarti sifatnya di atur atau mengatur lho ya. Tapi kalau memang kamu sayang sama si dia, saya yakin kamu akan melakukan hal apapun yang menurut kamu masih dalam batasan, apalagi hal yang membuat kamu ke arah yang lebih positif.

5. Berikan surprise!
Memberikan sedikit kado, hadiah, atau kejutan, selain akan membuatnya bahagia, pastinya bakalan romantis. Jangan mencoba untuk menilai dari bentuk atau harga dari kejutan tersebut. Jika menurut kamu kejutan tersebut akan membuatnya senang, berikan! Jika kamu yakin dia memang sayang sama kamu, doi pasti akan menerimanya dengan bangga dan senang hati. Siapa tahu kejutan tersebut bagi si doi adalah kado terindah dari kamu.

6. Selalu ada di setiap waktu.
Sering ketemu kadang bisa menjadi boomerang bagi hubungan kamu, karena biasanya rasa bosan sesekali pasti datang dan mengganggu. Tapi untuk mengatasinya, ya dirasa-rasain aja. Karena rasa itu kamu yang lebih tahu. Cobalah untuk selalu ada ketika senang ataupun susah. Intinya, bagaimana membuat kehadiran kamu adalah saat-saat yang berharga baginya.
I LOVE YOU, GOODBYE...
Cerpen Sedih Goodbye

Aku memandangi foto tersebut beberapa saat. “Hanna, i’ll keep you on my mind... we will meet again someday. Goodbye...” Ucapku dengan memegang erat selembar foto di tangan kanan lalu menempalkannya di dada.

“Hanna!!” mimpi itu lagi! sudah beberapa kali aku bermimpi seperti itu.


“aku tidak tau mengenai Hanna semenjak kepindahannya. Lagipula, kenapa kau baru mencarinya sekarang? Terakhir kali aku bertemu Hanna 2 tahun yang lalu, ia bercerita kepadaku bahwa keluargamu tidak menyetujui hubungan kalian. Karena itu kah kau meninggalkan Hanna ke Paris ?” Celotehan Irina membuatku benar-benar merasa bersalah. Saat ini aku membutuhkan dukungan, bukan nasehat-nasehat yang memojokkan posisiku. Pergi ke Paris juga bukanlah keinginanku. Tetapi, jika aku tidak melakukannya aku akan lebih melukai Hanna.

“Irina, aku datang kepadamu untuk menanyakan keberadaan Hanna, bukan untuk mendengarkan ocehanmu! Kau tidak tau apa pun mengenai aku, jadi jangan pernah berkata seolah-olah aku yang paling bersalah dalam hal ini!” bentakku padanya. Irina menghampiriku, kemudian aku merasa cairan bening mengalir dari atas membasahi kepalaku. Wanita itu menyiramku dengan segelas air putih! “apa-apaan kau Irina?!”

Ia tersenyum sinis. Matanya menatapku tajam penuh rasa kebencian. “kenapa kau hanya mencintainya Evan?! Aku menyukaimu lebih dari Hanna!! Kalau wanita yang kau puja-puja itu memang mencintaimu, mengapa dia pergi?! Mengapa dia tidak tetap diam menunggmu seperti yang aku lakukan selama ini?! Aku bisa memberikanmu kasih sayang yang tidak pernah Hanna berikan kepadamu Evan!” ucapan Irina membuatku bergidik. Wanita itu sungguh menakutkan. Ia terlalu terobsesi terhadapku yang tidak pernah menyukainya sedikitpun. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil langkah seribu meninggalkan rumahnya.

Tampaknya datang pada Irina adalah keputusan yang salah. Tapi hanya dia satu-satunya yang tersisa. Semua orang yang dekat atau pernah dekat dengan Hanna sudah aku kunjungi rumahnya satu per satu, namun mereka juga tidak mengetahui keberadaan wanita yang sangat ku cintai itu.

Aku mulai putus asa. Aku tidak tau lagi harus berbuat apa dan pergi kemana untuk mencarinya. Akhirnya aku memutuskan untuk menenangkan diri ke tempat aku dan Hanna biasa berkunjung. Duduk di tepi pantai dan menatap lautan luas adalah kegemaran kami. Namun rasanya kini tidak sama seperti dulu. Sekarang Hanna tidak ada di sampingku, ia pergi entah kemana tanpa meninggalkan jejak.

Langit biru yang cerah mulai berubah warna menjadi oranye kekuningan. Tidak terasa aku sudah berjam-jam duduk di tepi pantai ini. Aku seperti orang bodoh. Menunggu dan berharap Hanna akan datang dan tersenyum kepadaku. Hanna, aku harus menjelaskan padamu alasan aku meninggalkanmu dan memintamu untuk menunggu tanpa waktu yang jelas, tapi di mana dirimu saat ini?

Ckrek!

Tiba-tiba saja aku melihat kilatan lampu flash. Tampaknya seseorang telah mengambil fotoku dari belakang tanpa sepengetahuanku. Aku membelokkan badanku dan ternyata dugaanku benar! “apa yang kau lakukan?! Aku tidak suka seseorang memotretku tanpa izin!” wanita itu tidak memedulikanku dan masih menatapi kamera DSLR-nya.

“ah, oh, maaf, aku tidak sengaja memotretmu. Hanya saja kau terlihat begitu menyatu dengan objek sekitar. Kalau kau keberatan kau boleh menghapusnya.” Ia perlahan menghampiriku. Ia menyodorkan kameranya ke arahku. “ini, hapuslah sendiri fotomu.” Ujarnya.

Entah perasaan apa yang menghinggapiku. Aku tidak suka seseorang mengambil fotoku tanpa izin terlebih dengan orang yang tidak ku kenal. Tetapi kali ini berbeda. Aku ingin mengambil kamera itu dan menghapusnya tapi aku tidak bisa. Hatiku berkata untuk tidak menghapusnya. “tidak perlu. Kau bisa menyimpannya.” Kataku berusaha bersikap acuh.

“sungguh?! Terimakasih! Oya, siapa namamu?” wanita itu tersenyum riang.

Tanpa sadar aku bersama dengannya sepanjang sore. Kami berbincang-berbincang tentang banyak hal hingga larut. Dan selama itu aku tidak memikirkan Hanna. Kehadiran wanita bernama Kelly yang mempunyai hobby fotografi itu telah membuatku merasa semakin bersalah terhadap Hanna. Bisa-bisanya aku bersama wanita lain dan melupakannya. Aku tidak tau, sungguh... semua mengalir begitu saja. Hanna, aku harap kau tidak marah padaku jika kau mengetahui ini. Aku hanya mencintaimu seorang.


“jadi kau pergi meninggalkannya karena terpaksa? Kalau kau tetap bersama dengannya apa yang akan terjadi?” baru 2 hari aku mengenal wanita ini, tapi aku merasa sangat dekat dengan dirinya. Kelly adalah tipe yang periang. Setiap aku menatap matanya yang berkilat-kilat, aku merasa ia memberikan aku semangat untuk tetap menjalani hidup walau perih.

“jika aku tetap bersamanya... ibu ku akan melukainya dengan cara memperkenalkan Hanna dengan Christie.” Aku tak mampu meneruskan ceritaku. Aku tertunduk berusaha tegar. Namun beberapa saat terdiam aku kembali mengangkat kepalaku yang terasa berat dan menatap Kelly untuk melanjutkan ceritaku. “Christie adalah wanita asal Paris yang di jodohkan denganku. Semua itu adalah ulah ibu ku, maksudku ibu tiriku. Ia ingin menyingkirkan aku dari rumah dan menguasai harta almarhum Papaku. 3 tahun aku menetap disana sampai pada saat acara pertunanganku dan Christie diselenggarakan, tiba-tiba ibu tiriku mengalami serangan jantung dan ia meninggal di tempat. Aku berfikir bahwa ini adalah kesempatan bagiku untuk kembali ke Indonesia dan menemui Hanna. Tapi aku masih belum dapat bertemu dengannya. Aku takut sesuatu terjadi kepadanya.”

Wanita itu memegang bahuku dengan kedua tangannya. Ia menarikku ke dalam pelukannya. “kau laki-laki yang sangat baik Evan. Mendengar ceritamu aku jadi merasa iri terhadap Hanna. Ia beruntung sekali mendapati dirimu. Aku akan membantu mencarinya.”

“terimakasih Kelly.” Ucapku pelan karena sedikit terkejut.

“sebaiknya kita pulang sekarang, langit sudah gelap. Bye Evan.” Lagi –lagi gadis itu memamerkan senyum lebarnya yang indah. Aku seperti terhipnotis olehnya. Aku tidak boleh begini. Aku harus sadar dan memikirkan Hanna.

Langkah kakiknya semakin menjauh, sosoknya pun samar-samar tak terlihat lagi oleh kedua mataku yang mempunyai minus 2. Kini hanya aku yang berada di tepi pantai ini. Ketika aku bersiap pergi dari sana tiba-tiba terdengar suara seperti bisikan angin:

“Evan, selamat tinggal... aku harap kau bahagia bersama dengannya. Terimakasih untuk semua cinta yang pernah kau berikan.”

Suara itu lembut dan sangat pelan. Tetapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas. Aku rasa ini hanya halusinasiku saja karena belakangan ini aku selalu berkunjung ke tempat aku dan Hanna biasa bersama. Aku begitu rindu terhadapnya sehingga aku sampai mendengar suara-suara aneh di telingaku.

Jam menunjukkan angka 8 dan aku langsung melesat ke parkiran mobil dan menginjak gas untuk pergi dari tempat itu. Di tengah perjalanan aku teringat kembali akan semacam suara atau bisikan di telingaku tadi saat di pantai. Hanna, dimana dirimu? Aku rasa aku sedang frustasi sampai-sampai mengira suara itu adalah suaramu.

Ciiiittttttt...

Hampir saja aku menabrak wanita tersebut! Untunglah aku segera menginjak pedal rem. Ketidakkonsentrasianku ini cukup untuk menyeretku ke penjara. Aku melepas seat belt dan berniat menghampirinya. Tetapi ketika aku keluar mobil aku tidak melihat siapapun. Kemana wanita itu pergi? Tanyaku dalam hati penasaran.
 
“Hei! Evan! Apa yang kau lakukan di jalanan sepi seperti ini?” seruan itu.. aku rasa aku mengenal suara itu.
 
“K- Kelly?” kataku sedikit gugup tak percaya. Suatu kebetulan yang luar biasa menurutku.
Selangkah, dua langah, tiga langakah ia berjalan mendekatiku. Sekarang ia tepat di depan wajahku. Kelly terdiam tertunduk menatap aspal jalanan beberapa saat, lalu kemudian dengan secepat kilat ia merangkulku, ia merangkulku dengan erat seperti orang yang sudah sangat lama tidak bertemu dan meluapkan kerinduannya yang membuncah. Dan pelukannya kali ini berbeda jauh dengan yang sebelumnya.

“h-hei, Kelly, ada apa denganmu?” tanyaku agak terbata-bata karena kelakuan wanita satu ini. Entah mengapa aku merasa gugup, aku tidak nyaman ia memelukku. Aku merasakan hal yang aneh dan di lain sisi aku juga tidak enak dengan Hanna.

“jangan merasa tidak enak. Aku hanya ingin memelukmu sebentar saja Evan.” Nadanya begitu lembut dan membuat aku luluh. Aku membalas pelukan Kelly dan membiarkan ia juga memelukku.


“Evan, kemana lagi kita harus mencari Hanna? Kita sudah mengunjungi rumah tempat ia tinggal dulu dan menanyakan kepada tetangga sekitar namun tidak ada yang tahu dimana keberadaan ia atau keluarganya saat ini.” aku mendengar suara Kelly yang sedang menyetir mobil. Aku tau ia bertanya padaku. Tetapi aku tidak menjawabnya. Aku diam membisu karena aku masih teringat akan kejadian semalam. Entahlah, tetapi dari nada bicara Kelly ia seperti tidak pernah melakukan hal itu.

“Aku tau Evan, kau ingin pergi ke pantai itu lagi dan menghabiskan waktu disana saja, bukan? Baiklah, aku akan menemanimu.” Ujarnya.

Sesampainya kami disana, seperti hari-hari yang lalu aku dan Kelly duduk di atas pasir putih tepi pantai tersebut dan memandangi lautan biru luas yang indah serta gumpalan awan cerah yang berbentuk seperti gulali.

“Hanna, ah maksudku Kelly... boleh aku tau dimana kau kemarin jam 8 malam?” senatural mungkin aku bertanya pada Kelly agar ia tidak curiga. Entah mengapa aku ingin menanyakan hal ini.

“ah, jam 8 kalau tidak salah aku menelfonmu tetapi handphone-mu sepertinya tidak aktif. Memangnya ada apa Evan?” wanita itu menjawab pertanyaanku sambil memotret objek-objek di sekitarnya.

Apa?! Lalu siapa yang memelukku kemarin malam?! “t-tidak, tidak ada apa-apa.” ucapku berharap Kelly tidak menyadari keterkejutanku.

Ia berdiri dan menghempaskan pasir dari celana panjang. “Evan, tolong pegang dulu kameraku, aku mau ke kamar kecil.”

“baiklah.” Kataku sekenannya.

Melihat kamera itu hatiku seperti tertarik untuk melihat foto-foto yang ada di dalamnya. Aku mulai menelusuri satu persatu foto demi foto yang diambil oleh Kelly. Dia memang wanita yang berbakat. Semua hasil potretannya bagiku begitu memukau.

“hei, kau sedang apa? melihat-lihat foto ya?” sahut seseorang yang sudah pasti Kelly. Rupanya ia kembali dalam waktu yang sangat singkat, padahal aku belum menemukan fotoku karena terlalu banyak tertimpa oleh foto lainnya.

Aku mengulurkan kamera itu padanya. “ya, hanya sekedar melihat-lihat. Kau memang fotografer yang handal menurutku.”
 
“haha Evan kau pandai sekali memuji. Tapi aku masih amatir dan harus banyak belajar lagi.” Ia tertawa lepas dan tersenyum lalu kembali mengambil gambar di sekitarnya.

“Evan, bagaimana kalau kita foto bersama? Kau mau tidak?” tanya gadis itu dengan mimik yang berharap aku akan mengiyakannya.

“baiklah, terserah kau saja.”

Ckrek!

“waaah Evan, lihat!” Kelly menunjukan hasil foto di layar LCD kamera itu kepadaku. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke wajahku. “kau tampan sekali, kalau teman-temanku melihatnya mereka pasti akan berebutan untuk berkenalan denganmu haha.”

“sepertinya virusku tertular. Sekarang kau jadi pandai memuji Kelly.” Sindirku diiringi sedikit gelak tawa.

“mungkin saja haha.” Wanita itu tertawa renyah sampai matanya benar-benar menyipit.

Bersama dengannya aku merasa hal yang berbeda. Apa ini adalah rencana Tuhan untukku? Apa aku harus melupakan Hanna dan memulai kehidupan yang baru dengan orang yang baru juga? Entahlah, sempat terlintas difikiranku seperti itu tetapi aku belum berani mengambil tindakan nyata. Aku takut keputusan yang ku pilih malah akan memperburuk keadaan.

Bagaimana jika ketika aku sudah memilih Kelly, tiba-tiba Hanna muncul dan kembali? Aku tidak tau harus menjelaskan padanya mulai dari mana. Aku tidak ingin melukai hatinya lagi.

“Evan, aku akan bahagia jika kau bersama Kelly. Dia wanita yang baik. Kau tidak perlu ragu.”

Suara bisikan itu lagi! “Kelly, kau dengar suara itu?” tanyaku padanya seperti orang paranoid.

“suara apa Evan? Aku tidak mendengar apa pun, dan tidak ada suara lain selain desiran ombak di sini.”

“sudahlah, lupakan saja.” Ini membuatku gila. Suara itu kembali muncul dan membuat bulu kudukku berdiri. Apa maksud semua ini??


Nada dering handphoneku berbunyi cukup keras dan berhasil membangunkanku yang masih terlelap. Aku menekan tombol ‘jawab’ tanpa melihat siapa yang menelfon karena mataku menempel dan aku kesulitan membukanya.

“hallo..” sapaku dengan suara berat dan sedikit serak khas orang bangun tidur.

“astaga Evan, kau baru bangun tidur? Ini sudah jam 8, kau tau?!” omelan dengan intonasi yang cukup tinggi serta suara yang agak cempreng ini tidak salah lagi adalah milik Kelly.

“ah Kelly, berhenti mengomel. Telingaku sakit, kau tau? Ada apa menelfon pagi-pagi? Tidak biasanya kau begini.” Akhirnya setelah usaha yang cukup keras mataku bisa terbuka dan aku langsung melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka sambil masih menempelkan benda kecil itu di telingaku.

“aku sedang di tempat cetak foto. Aku ingin mencuci fotomu yang pertama kali aku ambil dan foto kita kemarin.” Ucapnya terkekeh. “setelah selesai aku akan kerumahmu untuk memberikannya. Jadi aku harap kau segera mandi karena aku tidak mau kebauan ketika berada didekatmu nanti haha.”

“ok ok, baiklah. Aku tunggu.”


“Evan, Kelly is here.” Aunty Clarice memasuki kamarku, ia adalah wanita asal Australia, ia juga istri dari kakakku satu-satunya yaitu James. Tetapi berhubung kakakku sedang mengurus cabang perusahaan keluarga di Jerman, ia meninggalkan istrinya dirumah bersama denganku dan sekaligus untuk menemaniku.

Ia berjalan ke arahku yang sedang duduk di atas kasur sambil membaca buku. “i’m happy you already moved on from Hanna.”

“i’ve never tried to do that Aunty. Hanna will always be in my mind.” Ujarku menutup buku itu lalu turun ke lantai bawah untuk menemui Kelly.

“Don’t deny Evan. Don’t ignore your heart cause your mind won’t be able to feel it.” Seru Aunty Clarice.

Perkataan Aunty-ku memang benar. Tetapi saat ini aku belum tau apa yang aku rasakan dan apa yang harus kulakukan serta kuputuskan.

“hei Kelly, sudah lama menunggu?” sahutku dari lantas atas lalu menuruni anak tangga satu persatu.

“oh h-hai Evan, tidak juga.” Suara Kelly terdengar gugup dan aneh. Seperti ada seseuatu yang ia sembunyikan dariku.

Aku baru ingat bahwa ia kemari karena ingin memberikan hasil fotonya. Aku pun menagih janji itu. “oya, boleh aku lihat foto yang sudah kau cetak? Pasti hasilnya sangat bagus.” Ucapku dengan menorehkan senyum kepadanya.

“ah i-itu.. iya hampir saja aku lupa.” Kelly langsung merogoh-rogoh ke dalam tas warna coklatnya mencari benda tersebut, tetapi tampaknya foto itu tidak ada. “mmm.. maaf Evan, aku rasa aku meninggalkannya di tempat cuci foto tadi. Aku akan mengambilnya dan segera kembali.” Aku bisa melihat dari bahasa tubuh Kelly yang canggung dan bersikap tidak seperti biasanya. Aku tau ada sesuatu yang terjadi dan ia tidak ingin aku mengetahuinya.

“tidak perlu Kelly!” pekikku cukup keras karena wanita itu sudah berada di ambang pintu dan bersiap pergi. “sini, duduklah dulu.” Kataku sambil menepuk-nepuk sofa.

Ia berjalan kaku menghampiriku dan duduk di sampingku. Aku memperhatikan air mukanya yang gusar dan agak pucat. “Kelly, tatap aku!” perintahku. Dengan terpaksa ia memutar kepalanya 90© dan berusaha memandangku. “Ada apa sebenarnya? Apa yang kau sembunyikan dariku?” tanyaku mendalam.

Gadis itu mengalihkan tatapannya dan tertunduk. Aku bisa mendengar dengan jelas bahwa ia sekarang tengah menangis sesenggukan. “aku berbohong Evan. Ambilah di dalam tasku dan lihatlah sendiri.”

Aku mengikuti perkataannya. Tapi untuk apa Kelly berbohong? Ini hanyalah foto. Batinku terus bertanya seperti itu sampai akhirnya aku mendapatkan benda yang kucari.

Terdapat 2 lembar foto dan foto yang pertama kulihat adalah foto aku dan Kelly saat di pantai kemarin. Kelly terlihat cantik dan begitu ceria di foto tersebut. Hal apa yang harus ia khawatirkan sampai-sampai ia berbohong padaku? Aneh sekali pikirku.

Foto selanjutnya... mungkin ini adalah alasan Kelly bersikap begitu. Aku tidak percaya melihatnya. Aku benar-benar shock. Jantungku berhenti berdetak dan seluruh syarafku mati selama beberapa saat. Aku tidak tau apakah ini editan semata atau foto asli sungguhan.

“Kelly, tolong jelaskan padaku. Kau yang mengedit fotoku, iya kan Kelly?!” aku menaikkan nada bicaraku terhadapnya karena foto ini memang sulit dipercaya.

“tidak Evan. Aku tidak mengeditnya. Aku juga tidak tau kenapa hasilnya bisa seperti itu.” suara parau dan tangisnya yang tak henti membuatku merasa bersalah. Aku telah menuduhnya melakukan itu. Aku telah bersikap kelewatan kepada wanita ini.

Aku memeluknya dalam sekejap. Aku tak mengerti mengapa aku bertindak seperti ini. Mungkin perkataan Aunty Clarice benar. Aku tidak boleh menyangkalnya. Aku tidak boleh mengabaikan hatiku karena pikiranku tak akan mampu merasakan kebenaran yang dirasakan oleh hatiku.

“maafkan aku Kelly. Aku tidak bermaksud menuduhmu. Aku... aku hanya... ini sulit sekali dipercaya. Tapi aku harus mengatakan ini padamu.” Aku melepaskan pelukanku perlahan lalu menggengam tangannya dan memandang matanya lekat-lekat. “aku menyukaimu Kelly. Sungguh. Ini nyata perasaanku yang sebenarnya. Kau pasti meragukannya, tapi aku mohon kali ini percayalah. Sejak pertama berkenalan denganmu aku mulai merasa bayangan Hanna memudar dan perlahan kau menggantikan posisinya dihatiku. Senyumanmu memberikanku semangat. Tawamu telah merubah aku yang dulu selalu menyalahkan diri sendiri karena meninggalkan Hanna. Aku jujur dengan ucapanku Kelly.”

Ia berhenti menangis dan menatapku. Tatapan matanya tampak sedang mencari-cari kejujuran didalam mataku. Tiba-tiba saja wanita itu merangkulku erat sekali.

“akhirnya kau bisa mencintai orang lain. Aku sangat bahagia Evan. Maaf aku menggunakan tubuh Kelly untuk berbicara denganmu. Kau begitu serasi dengannya. Satu saja permintaanku Evan, aku ingin kau dan Kelly datang ke tempatku.” Suara itu! Aku ingat sekarang. Ini adalah suara Hanna!

“tidak, Hanna, jangan pergi!” aku semakin mempererat pelukanku.

“Evan, aku tidak punya banyak waktu. Aku harus pergi setelah aku dapat berbicara denganmu. Terimakasih untuk semua cinta yang pernah kau berikan. Kau adalah pria yang istimewa bagiku.” Aku meneteskan air mata mendengar perkataan Hanna. Bagaimana bisa ia meninggal? Apa yang telah terjadi?

“tunggu! Hanna, apa yang telah terjadi padamu?” dengan cepat aku melepaskan dekapanku dari tubuh Kelly yang berisikan roh Hanna.

“a-aku... meminta keluargaku untuk pindah kuliah ke Bali. Aku berharap bisa melupakanmu di sana. Tetapi aku salah, aku justru semakin merindukanmu yang tak kunjung datang. Nilaiku juga menurun drastis, dan aku tidak ada orang yang mau dekat denganku karena mereka berfikir aku wanita yang aneh dan selalu menyendiri. Mereka menjauhi aku dan memandangku sinis. Karena aku tidak tahan akan cobaan ini, akhirnya aku menjatuhkan diri dari lantai 5 gedung asramaku. Evan, aku malu sebenarnya menceritakannya padamu. Aku wanita yang lemah, tapi kau harus tau. Aku tidak ingin membuatmu terus bertanya-tanya dan mencari aku yang bahkan sudah tiada.” Kelly, melalui dirimu aku dapat melihat tatapan sedih Hanna. Aku bisa merasakannya.

“Hanna, kemana aku harus pergi?” tanyaku polos.

“aku akan menyampaikannya pada Kelly. Aku harus pergi Evan. I love you, goobye...” setelah mengucapkan kalimat terakhirnya tubuh Kelly kemudian terkulai lemas, pingsan di atas sofa.


Jumat, 11 November 2011 - Denpasar, Bali

Aku dan Kelly saat ini berada di tempat, di mana Hanna dimakamkan. Ternyata setelah meninggalnya Hanna, orangtuanya kembali ke kampung halamannya di Manado. Aku tak dapat bersua. Aku masih belum menyangka nisan di hadapanku ini benar-benar miliknya. Meskipun tertulis jelas dan lengkap nama “Hanna Isabel Maria” namun di dalam hatiku, aku berharap ini adalah Hanna Isabel Maria yang lain, bukan Hanna yang ku cintai.

“Evan, cepat letakkan bunga melati putih itu. Hanna pasti sudah menunggu momen ini. Aku yakin dia bahagia di atas sana.”ujar Kelly yang berdiri di sampingku yang sudah lebih dahulu menaruh bunga di atas makam Hanna.

Tanganku gemetar ketika akan menaruh bunga tersebut. Aku seakan tak mampu menghadapi kenyataan ini. Tetapi Kelly menggengam tanganku. Ia membantuku dengan senyum ikhlasnya. Tak terlihat sama sekali kecemburuan di wajahnya walau ia tau masih ada sebagian dari Hanna yang tertinggal di dalam diriku.

Aku mengeluarkan selembar foto dari dompetku dan menaruhnya di dekat bunga melati putih itu. Ya, foto yang ku taruh adalah hasil jepretan Kelly yang membuatku tersentak kaget. Foto itu adalah fotoku saat pertama kali aku dan Kelly bertemu. Ia memotretku dari belakang, dan ternyata terdapat sosok bayangan Hanna yang cukup jelas di dalam foto tersebut setelah dicetak. Ia terlihat sedang duduk di sampingku, dan yang membuatku lebih terkejut yaitu ia tampak seperti mencium pipiku. Saat pertama kali melihatnya aku meneteskan air mata karena begitu tak percaya. Namun, biar bagaimanapun itu adalah kenyataannya.

“Kelly, tetaplah bersamaku dan jangan pernah meninggalkan aku. Karena apa pun yang terjadi aku tidak akan pergi darimu.” aku memeluknya dengan erat. Aku tidak akan lagi menyia-nyiakan wanita yang berharga dalam hidupku. Cukup sekali aku berbuat kesalahan dan tak akan aku mengulanginya.

“Evan, thank you for loving me.” Bisiknya di telingaku.

Hanna, you never really left. I’ll always remember you. I can’t forget you or erase you from my heart. I’m able to get my happiness with Kelly, and i hope you’re smiling seeing us from up there.

I will watch you through these nights..
Rest your head and go to sleep..
This is not our farewell..
(Within Temptation – Our Farewell)


Nieh ada pantun cinta lagi kawan :

Pantun cinta,Pantun Cinta Roamtis,Pantun Cinta LucuWahai seruling buluh perindu
Suaranya memikatku
Wahai gadis pujaanku
Aku sangat cinta kamu

 

dari jauh wrna ungu
dari dkat wrna biru
dari jauh aku rindu
dari dkat aku mluu

 

jangan menulis di atas kaca
menulis lah dia tas meja
jangan menangis karena cinta

menangis lah krena cinta
 

jalan"ke maluku jangan lupa beli kayu
kalau kamu cinta padaku bilang saja
I LOVE YOU

 

kita akan bersama
walau kau tiada disisi
walau kau jauh disana
aku tetap menanti disini

 

mencari barang sudah ketemu
di antara tumpukan kayu
setiap aku memandang mu
ingin ku bilang I LOVE YOU

 

Si akbar minum jamu
Sudah ngak sabar pengen cium kamu

 

Mulanya duka kini menjadi lara
Teman tiada hanyalah sendu

Bila rindu mulai membara
Itulah tanda cinta berpadu

Minggu, 10 Maret 2013

Kenangan cinta kita

Terasa indah saat kita bersama
Menjalani cinta kita berdua
Sekian lama kita bersama
Tak pernah ku duga akan berakhir


Mungkin ini yg terbaik
Untuk aku dan kamu
Kita saling mencintai namun
Kenyataan tak pernah seindah mimpi kita


Mungkin juga aku takkn pernah
Bisa melupakanmu selamanya
Aku ingin melihatmu bahagia
Walau kebahagiaanmu tak bersamaku


Sekarang kita telah berbeda
Aku bukanlah sperti yg dulu
Selamat tinggal cinta terindahku

I love and miss you forever

Selamat malam sayang

Aku terkapar dalam hamparan tempat tidurku
Melamunkan semua tentang cinta di malam ini
Cinta yang selalu datang dalam setiap nafas
Setiap nafas dalam hidupku

Malam yang gelap ini
Aku selalu mengirim sesuatu yang indah untukmu
Walau kau tak melihat tapi selalu ada disampingmu
Hanya bisa kau rasakan
Dan memberikan kenyamanan dalam tidurmu malam ini

Puteri dalam indahnya malam ini
Aku datang lewat mimpimu
Dan aku keluar lewat keindahan yang kau rasakan
Terlelaplah wahai poetri indahku
Aku selalu datang untuk menemanimu

Walau hanya lewat angin
Tapi aku akan selalu menyejukanmu
Aku akan datang
Saat kau bermimpi

Sabtu, 09 Maret 2013

DALAM BAYANGKU

Aku mengenangmu
Lewat siluet kata
Aku membayangkanmu
Terlihat dalam fatamorgana

Angin memberikan pertanda
Dan membawaku ke alam cinta
Hinggaku terhempas sejauh tak kukira

Aku tertidur dalam setiap bayangku
Yang terus memanggil namamu
Apa yang harus aku lalukan
Untuk sejenak melepas banyangan itu

Dan lagi kau telah menguasainya
Hingga aku terlarut
Dalam bayangku tentangmu
AIR MATAKU

Entah ini yang keberapa tetes
Tak terhitung lagi
Air mata inilah yang kunanti sejak kemarin
Akhirnya dia hadir di malam ini
Datang tuk temani gundahku
Temani sepiku
Dan sedikit mengobati lukaku

Terpendam perih yang kurasa
Kutuangkan semua lewat semua air mata
Ingin kuluapkan amarahku dengan teriakan
Karna disini tak ada yang mampu mengerti
Apalagi tuk memahami smua yang terjadi
Aku hanya diam sendiri
Ditemani air mata dan malam yang sepi